Rabu, 24 Juni 2015

Aku kakak yg baik

Terik mentari begitu menyengat. Debu2 beterbangan menambah kesempurnaan kemarau panjang yg tak berkesudahan. Rezeki melimpah bagi penjaja es, sementara petani menunggu dg cemas kapan hujan membasahi ladang mereka. Bak koin mata uang, kemarau dan hujan pun demikian. Ada yg merasa terberkati, ada yg menggerutu menyesali. Ah, kesyukuran memang selalu diuji... [Panjang bgt pembukaannya] Membelah kota, dari ujung ke ujung lainnya. Menjenguk Irfan Hafiz di Bululawang, langsung meluncur ke Pakis tempat Navis. Sensasi seru perjalanan jauh itu. Berasa jadi pembalap. Ah tahu diri, motor cuma scoopy. Ditarik sekenceng apapun, juga tetap segitu. Haha Jengukin adik2 slalu menjadi bagian yg sy tunggu. Menatap mata lugu, sambil mendengarkan cerita lucu. Mereka sungguh beruntung punya kakak sebaik sy. Haha. Kabar baiknya, Tadi waktu di motor pas pulang dr rumah Umik dia cerita. Kangen rumah semboja dan pingin umpa mb Sulis. Oia, BA dapat salam dr Navis. Dan pada akhirnya sy menyadari, benar kata BA semalam: kelas kita benar2 sedang diuji. Terutama ketua kelasnya... haa Met malam BA... Slamat ngapain ajaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar